Hindari Lima Hal Perusak Amal Saat Ramadhan

0
92
Ilustrasi nu.or.id

Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan Ramadhan menjadi bulan mulia yang penuh dengan ampunan dan limpahan pahala bagi mereka yang mengerjakan amalan kebaikan.

Puasa di bulan Ramadhan menjadi salah satu ladang untuk mendapatkan pahala tersebut. Ditambah lagi apabila kita mengerjakan amalan sunah dan berbagi kebaikan kepada sesama umat manusia. Maka niscaya Allah SWT akan melipatgandakan berkah pahala bagi pelakunya.

Namun tahukah anda, ternyata ada beberapa hal yang dapat merusak amalan yang kita lakukan di bulan Ramadhan. Hal ini terkadang masih sering kita lakukan dengan sengaja ataupun tidak. Lantas hal apa sajakah yang dapat merusak amalan di bulan Ramadhan? Berikut informasinya.

1. Tanpa Ilmu

Hal pertama yang merusak amalan yang kita lakukan di bulan Ramadhan adalah perbuatan yang dilakukan tanpa ilmu. Misalnya saja puasa, kita hanya berpuasa karena orang di sekitar kita menjalankan ibadah tersebut tanpa mengetahui bagaimana sebenarnya tuntunan untuk berpuasa. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang rusak karena berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,

“Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia bisa tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain dengan mengikuti ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (Lihat Miftah Dar As-Sa’adah, 1:299)

2. Masih Mengerjakan Maksiat

Ketika menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, sudah seharusnya kita bisa meredam hawa nafsu untuk melakukan perbuatan maksiat. Karena pada dasarnya puasa di bulan Ramadhan itu tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus saja, akan tetapi juga menahan hawa nafsu yang dapat menimbulkan perbuatan dosa.

Apabila kita tetap melanjutkan maksiat ketika berpuasa di bulan Ramadhan, maka kita tidak akan mendapatkan pahala dari puasa tersebut. Seperti halnya dijelaskan oleh Rasulullah SAW, beliau bersabda:

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.” (HR. Ahmad, 2:373. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari, no. 1903)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa’.” (HR. Ibnu Khuzaimah, 3:242. Al-A’zhami mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih). Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah. Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.

3. Masih Pelit dengan Harta

Ramadhan menjadi bulan yang paling baik untuk berbagi kepada sesama. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa Allah akan melipatgandakan pahala dari setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Oleh karena itu, jangan lupa untuk senantiasa bersedekah kepada kaum yang membutuhkan dan janganlah pelit mengeluarkan harta untuk melakukan amalan kebaikan.

Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi, no. 1984. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

4. Puasa Tetapi Tidak Shalat

Hal selanjutnya yang merusak amalan ketika Ramadhan ialah puasa namun tidak mengerjakan shalat. Shalat menjadi amalan wajib yang harus dilakukan bagi setiap kaum muslimin. Maka dari itu, jangan pernah meninggalkan shalat.

Pakar fikih Kerajaan Saudi Arabia pada masa silam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apa hukum orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat?” Beliau rahimahullah menjawab, “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat berarti kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala,

”Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11)

Shalat menjadi pembeda antara umat muslim dan kafir. Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 82)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah melanjutkan, “Kami katakan, ‘Shalatlah kemudian tunaikanlah puasa.’ Adapun jika engkau puasa namun tidak shalat, amalan puasamu akan tertolak karena orang kafir (sebab meninggalkan shalat) tidak diterima ibadah darinya.” (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 17:62)

5. Shalat tarawih super ngebut

Hal terakhir yang merusak amal di bulan Ramadhan ialah shalat tarawih super ngebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.” (HR. Muslim, no. 756)

Oleh karena itu janganlah kita tergesa-gesa ketika menjalankan ibadah tarawih tersebut. Dari Abu Hurairah, beliau berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.” (HR. Bukhari, no. 1220 dan Muslim, no. 545).

Ibnu Hajar rahimahullah membawakan hadits di atas dalam kitab beliau Bulughul Maram, Bab “Dorongan agar khusyu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’ dan sujud. (Lihat Syarh Bulughul Maram, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49:3, Asy-Syamilah)

Demikianlah informasi mengenai lima hal yang dapat merusak amal di bulan Ramadhan yang tanpa kita sadari pernah dilakukan. Maka dari itu hindarilah lima perkara di atas agar amalan yang kita lakukan di bulan Ramadhan dapat diterima oleh Allah SWT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here